Mengapa Orang Pakai Nama Palsu Saat Berkomentar di Media Sosial ?

0

TNO, Belopa Luwu – Ketika mengomentari posting, status, atau tweet secara online, netizen cenderung menggunakan nama palsu. Namun tahukah Anda mengapa hal itu dilakukan?

Achmad Kusman (Pimpinan Umum Media TNO (Teropong News Online) TN Teropong News.

Dari sekitar 1.000 orang yang menggunakan layanan mereka dan tambahan 1.000 pengguna internet umum telah mengungkap bagaimana para netizen ini mengidentifikasi diri mereka secara online.

Dari hasil survei tersebut, terungkap jika mayoritas pengguna internet masih mengandalkan nama samaran ketika posting komentar online, tapi kenapa begitu? Nah menurut Achmad Kusman di sektor pemasaran dan komunikasi, menggunakan nama samaran membuat netizen merasa aman dan nyaman ketika ingin berbagi pendapat tentang topik yang bersifat kontroversial seperti agama dan politik.

” Ini bukan tentang menyembunyikan identitas. Ini tentang privasi dan memilih identitas hingga Anda bebas berbicara,”

Namun tentu selalu ada kemungkinan bahwa orang bisa bersembunyi di balik nama samaran atau memilih menjadi anonim sehingga mereka bisa dengan bebas mengatai pengguna lain di internet baik di forum maupun jejaring sosial. Kemungkinan adanya niatan meninggalkan komentar yang bersifat mencaci ataupun propaganda tanpa banyak pengaruhnya pada kehidupan nyata mereka juga tak tertutup.

Menanggapi banyaknya registrar yang menggunakan nama palsu juga membuat platform jejaring sosial seperti YouTube, Facebook, dan Google pun kini memiliki aturan yang memaksa pengguna untuk menggunakan nama asli mereka ketika membuat komentar atau mendaftar akun baru. Hal tersebut dimaksudkan agar pengguna lebih bertanggung jawab atas tindakan mereka.

Saat ini sendiri tak dipungkiri masih banyak pengguna internet yang menggunakan nama palsu saat mendaftar di jejaring sosial atau pun membuat akun baru di platform tertentu. Menurut Anda, mengapa nama samaran masih dipilih kala melakukan posting komentar atau pendapat secara online?

Foto/Gambar sebagai Informasi Elektronik dan Dokumen Elektronik Oleh karena perbuatan Anda hanya menggunakan foto dari selebgram Luar tersebut, tetapi tidak mencakup identitas atau informasi lainnya, maka perlu dijelaskan terlebih dahulu apakah foto termasuk ke dalam Informasi Elektronik dan Dokumen Elektronik atau tidak.

Berdasarkan Pasal 1 angka 1 UU 19/2016, Informasi Elektronik didefinisikan sebagai berikut: Informasi Elektronik adalah satu atau sekumpulan data elektronik, termasuk tetapi tidak terbatas pada tulisan, suara, gambar, peta, rancangan, foto, electronic data interchange (EDI), surat elektronik (electronic mail), telegram, teleks, telecopy atau sejenisnya, huruf, tanda, angka, Kode Akses, simbol, atau perforasi yang telah diolah yang memiliki arti atau dapat dipahami oleh orang yang mampu memahaminya.

Sementara itu, Pasal 1 angka 4 UU 19/2016 menjelaskan mengenai definisi dari Dokumen Elektronik sebagai berikut: Dokumen Elektronik adalah setiap Informasi Elektronik yang dibuat, diteruskan, dikirimkan, diterima, atau disimpan dalam bentuk analog, digital, elektromagnetik, optikal, atau sejenisnya, yang dapat dilihat, ditampilkan, dan/atau didengar melalui Komputer atau Sistem Elektronik, termasuk tetapi tidak terbatas pada tulisan, suara, gambar, peta, rancangan, foto atau sejenisnya, huruf, tanda, angka, Kode Akses, simbol atau perforasi yang memiliki makna atau arti atau dapat dipahami oleh orang yang mampu memahaminya.

Dapat dipahami bahwa foto termasuk ke dalam Informasi Elektronik dan Dokumen Elektronik sebagaimana disebutkan dalam definisi di atas. Dalam hal ini, jika berbicara mengenai file foto yang digunakan oleh teman Anda, maka foto yang ditampilkan dari file tersebut ialah Informasi Elektronik, sedangkan Dokumen Elektronik dari file tersebut ialah jpg, atau png, atau dengan format lainnya.

Menggunakan Foto Orang Lain untuk Melakukan Manipulasi? Melihat perbuatan Oknum menggunakan foto selebgram Luar untuk memanipulasi dengan membuat fake account di Instagram, perlu dijabarkan ketentuan dalam Pasal 35 UU ITE sebagai berikut: Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum melakukan manipulasi, penciptaan, perubahan, penghilangan, pengrusakan Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik dengan tujuan agar Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik tersebut dianggap seolah-olah data yang otentik. Dasar Hukum: Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

Penulis: Achmad Kusman (Pimpinan Umum Media TNO (Teropong News Online) TN Teropong News.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

Open chat
Bisa Kami Bantu ?
Hallo ! Ada yang bisa kami bantu ?